Minggu, 25 Januari 2015

Sudahkah Kita Profesional?



Bapak dan Ibu Guru yang terhormat sudahkah kita professional ?
Sudahkah kita memenuhi kriteria berikut:


1.    Selalu punya energi untuk siswanya
Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.

2.    Punya tujuan jelas untuk Pelajaran
Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.

3.    Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.

4.    Punya keterampilan manajemen kelas yang baik
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif, membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.

5.    Bisa berkomunikasi baik dengan Orang Tua
Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.

6.    Punya harapan yang tinggi pada siswanya
Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.

Sabtu, 09 Maret 2013

GELAR PENDIDIKAN



Sebelum tahun 1993, gelar sarjana yang ada di Indonesia antara lain

Doktorandus (Drs.)
Doktoranda (Dra.)
Insinyur (Ir.)

Setelah tahun 1993 penggunaan baku gelar sarjana yang ada di Indonesia antara lain 

Sarjana Ekonomi Islam [S.E.I]
Sarjana Kesehatan Masyarakat [S.KM]
Sarjana Ekonomi [S.E]
Sarjana Hukum [S.H]
Sarjana Hukum Islam [S.H.I]
Sarjana Teknik [S.T]
Sarjana Teknologi Pertanian [S.TP]
Sarjana Agama [S.Ag]
saat ini berubah menjadi Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
Sarjana Pendidikan (S.Pd.)
Sarjana Komputer (S.Kom.)
Sarjana Psikologi (S.Psi)
Sarjana Sosial (S. Sos)
Sarjana Syari'ah (S.Sy.)
Sarjana Sains (Teologi) (S.Si. (Teol))
Sarjana Teologi Islam [S. Th I]
Sarjana Teologi Kristen (S.Th.)
Sarjana Sistem Informasi (S.SI)

Gelar sarjana ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S diikuti inisial bidang studi. Strata pendidikan Sarjana ini disebut sebagai Strata 1 atau biasa disingkat S1. Studi Sarjana terdiri dari 144 SKS (satuan kredit semester) dan secara normatif ditempuh selama 4 tahun

Magister (S2)
Gelar magister yang ada di Indonesia antara lain
Magister Agama (M.Ag.)
Magister Manajemen (M.M.)
Magister Sains (M.Si.)
Magister Ilmu Komputer (M.Kom.)
Magister Teknologi Informasi (M.T.I.)
Magister Manajemen Sistem Informasi (MMSI.)
Magister Pendidikan (M.Pd.)
Magister Teknik (M.T.)
Magister Hukum (M.H.)
Magister Humaniora (M.Hum.)
Magister Teknologi Informasi (M.T.I.)
Magister Teknik (M.T.)
Magister Akuntansi (M.Ak.)
Magister Administrasi Rumah Sakit (M.A.R.S.)
Magister Seni (M.Sn) dan
Magister Kenotariatan (M.Kn.)

Gelar magister ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M diikuti inisial bidang studi. Strata pendidikan Magister ini disebut sebagai Strata-2 atau biasa disingkat S2.
Doktor (S3)

Doktor adalah gelar akademik tertinggi yang dapat diberikan kepada seseorang yang menempuh pendidikan yang diperoleh dari perguruan tinggi. Untuk memperoleh gelar Doktor di Indonesia, seseorang umumnya harus menempuh perkuliahan (kelas) dan diakhir melakukan penelitian untuk menyusun disertasi. Di Indonesia, gelar doktor dari bidang studi apapun bergelar Doktor dan ditulis di depan nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan 'Dr'. Strata pendidikan Doktor ini disebut sebagai Strata-3 atau biasa disingkat S3. contoh ; Dr. Moch. Dendi Oktaviandi, M.Kom


Gelar akademik di Hindia-Belanda dan Belanda

  • Doctorandus (Drs.)
  • Ingenieur (Ir.)
  • Meester in de Rechten (Mr.)

Gelar akademik di negara-negara yang menganut sistem Anglo-Saxon

Bachelor

  • Bachelor of Arts (B.A.)
  • Bachelor of Science (B.Sc.)
  • Bachelor in Computer Science
  • Bachelor of Law (L.L.B.)
  • Bachelor of Engineering (B.E)

Master

  • Master of Arts (M.A.)
  • Master of Science (M.Sc.)
  • Master of Engineering (M.Eng.)
  • Master of Engineering Science (M.Eng.Sc.)
  • Master of Busines Administration (M.B.A.)
  • Master of Theology (M.Th.)
  • Theologiae Magister (Th.M.)
  • Master of Laws (L.L.M.)

Doctor

  • Master of Philosophy (M.Phil.) (pra-S3)
  • Doctor of Philosophy (Ph.D.)
  • Doctor of Theology (Th.D.)
  • Doctor of Education (Ed.D.)

Gelar akademik di Jerman

  • Diplom-Ingenieur (Dipl.-Ing.)
  • Magister
  • Doktor + Bidang Studi: Dr. rer. nat., Dr. phil., Dr. iur., Dr. rer. oec., Dr. rer. pol., Dr. med., Dr.-Ing.

Peran PGRI Bagi Guru dan Pembangunan Pendidikan




Hal terpenting yang harus diketahui oleh segenap anggota PGRI dimanapun adalah upaya dan perjuangan PGRI selama ini bagi kepentingan guru dan masa depan pendidikan tak henti-hentinya dilakukan oleh Pengurus PGRI. Dengan kata lain, PGRI Sebagai organisasi profesi dan perjuangan, terutama pada era reformasi ini telah banyak menunaikan tugas pokok dan fungsinya melalui perjuangan yang tiada henti dalam rangka merespon aspirasi dan kepentingan guru, melindungi dan memperjuangkan kepentingan guru serta pendidikan.

Hal itu dikemukakan Ketua PB PGRI H. Sugito, M.Si dihadapan peserta Seminar EI-PGRI Consortium Project Jum’at (7/8) lalu. Dikatakan, Banyak bukti konkrit terhadap kerja keras PGRI selama ini mulai dari tuntutan anggaran pendidikan 20 persen yang hingga tembus ke Mahkamah Konstitusi dan PGRI menang terhadap gugatannya terhadap pemerintah hingga berhasil mendesak disahkannya Undang-Undang tentang Guru
dan Dosen. Selain itu PGRI berhasil memperjuangkan keluarnya PP No. 61 tentang sertifikasi Profesi guru, berhasil memperjuangkan keluarnya PP No. 41 tentang Tunjangan Profesi guru, dosen dan guru besar. Kini, yang masih diperjuangkan PGRI adalah usulan kenaikan pangkat secara otomatis setiap empat tahun sekali, serta kenaikan pangkat dalam waktu dua tahun dengan sistem kredit poin terhadap tenaga pendidik.

Sebagai organisasi Serikat Pekerja, PGRI telah berkiprah memajukan pendidikan seluruh rakyat berdasarkan kerakyatan bekerja sama dengan Education International (EI) serta secara terus menerus melakukan upaya membela dan memperjuangkan nasib guru khususnya dan nasib buruh pada umumnya (organisasi ketenagakerjaan).

Kiprah dan peran PGRI bagi kepentingan guru dan pembangunan pendidikan, tidak hanya mencuat ke permukaan pada era reformasi saat ini tapi sejak kelahirannya 63 tahun lebih lamanya, PGRI secara konsisten mengemban amanah anggotanya baik melalui dialog, dan silaturahim dengan pengambil kebijakan mulai dari Presiden, Wakil Presiden, Menteri hingga ke tingkat bawah Gubernur, Bupati-Walikota dan pengambil kebijakan lainnya. Tidak hanya itu saja, PGRI bahkan tidak segan-segan melakukan pengerahan massa untuk meloloskan ataupun membela kepentingan guru dan pendidikan. Menurut catatan, bagaimana peran dan kiprah PGRI sejak era orde lama-orde baru dan era reformasi dalam peran sertanya melahirkan berbagai karya penting dan bersejarah tidak hanya untuk kepentingan guru tapi juga untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Meski telah melalui rentang perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, namun menurut Sugito perjuangan untuk mewujudkan tatanan guru Indonesia yang berkualitas, sejahtera dan terlindungi belum berakhir. Tantangan kedepan masih terbentang luas dan semua tantangan itu hanya bisa diselesaikan jika seluruh elemen guru bersatu dan solid dalam wadah PGRI. Menurutnya, selama ini satu-satunya organisasi guru yang bisa menembus ke elite-elite pengambil kebijakan mulai dari Presiden, Wakil Presiden sampai Menteri hanya PGRI. Itu artinya, PGRI merupakan organisasi guru , Dosen dan pendidik yang diakui eksistensinya oleh lembaga-lembaga negara dan lembaga lainnya ditingkat nasional dan internasional.


Apa Itu JJM, JJM KTSP dan JJM Linier di Dapodik?




Bagi guru atau Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) telah melakukan pengecekan datanya di data pokok pendidikan (Dapodik) pasti sudah tahu JJM. Pengecekan secara online melalui website P2TK Dikdas ini untuk memastikan data guru yang sudah terkirim valid atau masih ada kesalahan. Data diinput dan dikirim sendiri oleh sekolahan (opertaor) masing-masing melalui Aplikasi Pendataan Pendidikan ke server pusat Dapodik secara online.

Setelah login ke P2TK Dikdas guru atau PTK akan melihat data-datanya nomor 0 sampai 20. Data inilah yang nantinya akan dijadikan dasar
penerbitan SK Tunjangan Profesi (SK TP) atau juga dikenal dengan SK Dirjen. Jika ada data yang fatal (salah) akan berakibat pada penerimaan Tunjangan Profesi. Khususnya data nomor 17 yaitu Kode Bidang Studi Sertifikasi dan nomor 20 yaitu Total Jam Mengajar Sesuai.

Total Jam Mengajar Sesuai atau JJM sesuai terdapat rincian, yaitu;
1. JJM adalah Jumlah Jam Mengajar, data ini berasal dari jumlah jam yang kita masukkan dalam aplikasi pendataan bagian pembagian rombongan belajar.

2. JJM KTSP adalah Jumlah Jam Mengajar kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Jam mengajar dihitung sesuai dengan batasan maksimal kurikulum KTSP.

3. JJM Linier adalah Jam Mengajar yang dibatasi KTSP, yang dihitung sesuai dengan kode sertifikasi yang dimilikinya. (Contoh: Guru Sertifikasi Bidang Studinya Guru Penjas, tetapi mengajar Guru Kelas, itu di P2TK Dikdas tidak dihitung jam mengajarnya atau 0).

Kebanyakan permasalahan terkait JJM Linier yaitu, saat
dicek di P2TK JJM Liniernya 0 (nol), itu bisa terjadi karena guru atau PTK yang bersangkutan belum sertifikasi, sehingga data nomor 17 yaitu Kode Bidang Studi Sertifikasi fatal, dan JJM Linier pun juga akan 0 (nol).

Untuk Kepala Sekolah, mendapatkan JJM Linier 18 dari tugas tambahan sebagai sebagai Kepala Sekolah. Agar JJM Liniernya minimal 24 sebagai syarat mendapat Tunjangan Sertifikasi, 6 Jam tambahannya ditambahkan dari mengajar sesuai kode sertifikasinya. Misalnya jika guru kelas, maka tambahan 6 jam itu adalah 2 Jam di kelas IV, V, dan VI yang diisikan di pembagian rombongan belajar pada
Aplikasi Pendataan Dapodik.

Rabu, 13 Juni 2012

Reward Diberikan Kepada Siapa?


A.     Mengapa Perlu Memberikan Reward

Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain belajar adalah merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa/peserta didik dalam hal kemampuannya untuk ber-tingkah-laku dengan cara yang baru sebagai hasil dari interaksi antara stimulus dan respon.
Ganjaran menurut bahasa, berasal dari bahasa inggris Reward yang berarti penghargaan atau hadiah. Metode Reward (ganjaran) merupakan suatu bentuk teori penguatan positif yang bersumber dari teori behavioristik. Gunanya adalah untuk memotivasi siswa supaya menjadi yang terbaik. Reward adalah segala sesuatu yang berupa penghargaan yang menyenangkan perasaan siswa karena hasil baik dalam proses pendidikannya dengan tujuan agar senantiasa melakukan pekerjaan yang baik dan terpuji.
Peranan Reward dalam proses pembelajaran cukup penting terutama sebagai faktor aksternal dalam mempengaruhi dan mengarahkan perilaku siswa. Hal ini berdasarkan atas berbagai pertimbangan logis, diantaranya Reward ini dapat menimbulkan motivasi belajar siswa dan dapat mempengaruhi perilaku positif dalam kehidupan siswa.
Manusia selalu mempunyai cita-cita, harapan, dan keinginan. Inilah yang dimanfaatkan oleh metode Reward. Maka dengan metode ini, siswa yang mengerjakan perbuatan baik atau mencapai suatu prestasi tertentu diberikan suatu Reward yang menarik sebagai imbalan. Reward merupakan alat pendidikan yang mudah dilaksanakan dan sangat menyenangkan bagi para siswa. Untuk itu, Reward dalam suatu proses pendidikan sangat dibutuhkan kebenarannya demi meningkatkan motivasi belajar siswa.
Maksud dari pemberian Reward kepada siswa adalah agar siswa menjadi lebih giat lagi usahanya untuk memperbaiki atau mempertinggi prestasi yang telah dicapainya, dengan kata lain siswa menjadi lebih keras kemauannya untuk belajar lebih baik.

B.      Kepada Siapa Reward Diberikan

Enam Potensi Siswa yang harus dikembangkan di sekolah:
1.    Potenti Spiritual
2.    Potensi Fisik
3.    Potensi Sosial
4.    Potensi Kreatif
5.    Potensi Emosi
6.    Potensi Akademik

Kita telah memberikan reward kepada siswa yang berprestasi, namun apakah beberapa potensi positif siswa yang kita bentuk dan bina telah kita beri reward? Yang biasa kita lakukan adalah memberi reward potensi akademik? Mari kita rencanakan kembali.